Cara Budidaya Cabai Rawit dengan Hasil Panen Selangit
Cabe rawit dengan nama ilmiah Capsicum frustescens merupakan tanaman yang buahnya dapat dijadikan sebagai bumbu masak. Cabe rawit merupakan famili dari Solanaceae. Di pasaran harga cabai rawit harganya sangat melambung tinggi apalagi menginjak hari-hari besar keagamaan menyerupai Idul Fitri, Natal, maupun tahun baru. Sehingga kalau usaha budidaya dan bertanam cabe rawit ditekuni dengan baik maka akan memperoleh keuntungan yang besar dan ini tidak terlepas dari bagaimana cara budidaya cabe rawit hasil panen selangit.
Setiap orang pasti sudah mengenal bahkan cabe merupakan bumbu masak alamiah yang bisa menggugah selera dan memberi rasa pedas pada menu masakan. Bagi Anda yang sering memakan sambal, rasanya tidak enak kalau makan tanpa adanya rasa pedas pada sayur atau menu masakan lainnya. Sebab, hampir seluruh menu masakan yang disajikan di aneka macam restaurant, warung makan, hotel dan tempat wisata masakan semuanya jenis sayurnya tidak terlepas dari penambahan buah cabai rawit di dalamnya. Cabe rawit sebagian orang gemar mengonsumsinya alasannya yakni selain rasanya yang pedas juga dapat menambah selera makan.
Karakteristik dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Rawit
Tanaman cabai rawit memiliki karakteristik memiliki daun yang hijau bau tanah dan kadang kala berwarna hijau muda, memiliki akar serabut, merupakan tumbuhan monokotil, perawakan badan kadang kala memiliki ketinggian 80-90 cm, daun berurat menjari, bunga kelipatan 3, bunganya biasanya menggantung diantara ketiak batang maupun ketiak daun, batangnya tidak beruas-ruas, buah cabai rawit yang masih muda berwarna hijau muda dan buah yang sudah matang berwarna merah.
Tanaman Cabai rawit sangat cocok hidup di kawasan dataran rendah maupun di dataran tinggi (seperti daerah-daerah perbukitan maupun pegunungan), di kawasan ladang, atau perkebunan yang luas. Adakalnya para petani menanam cabai secara tumpang sari yakni berada pada satu lahan dengan tanaman lainnya, biasanya menyerupai tanaman kacang panjang, jagung, ketela pohon, atau tanaman sayur bayam.
Tanaman cabai rawit membutuhkan iklim sedang serta ketersedian air cukup di sepanjang musimnya. Kondisi cuaca dan iklim yang mendukung untuk bercocok tanam cabai rawit yakni kisaran suhu 17-26 derajat celcius, dengan kelembaban 50-60 %.
Tanaman Cabai rawit sangat toleran terhadap aneka macam jenis tanah. Umumnya para petani menanam cabai rawit pada lahan yang memiliki kadar humus tinggi, tanahnya gembur dan tidak gersang, memiliki banyak unsur hara penting, serta sangat cocok ditanam pada tanah jenis aluvial ataupun latosol. Tingkat keasamaan (pH) tanah yang cocok untuk tanaman cabe rawit berkisar 5,3-5,5. Tanah yang biasanya digunakan petani untuk menanam cabe rawit yakni tanah gembur berhumus, tanah andosol, tanah latosol, tanah aluvial.
Varietas atau Jenis Tanaman Cabai Rawit Yang Sering Ditanam Oleh Petani
Setidaknya ada beberapa varietas/jenis tanaman cabai rawit yang sering ditanam oleh para petani diantaranya; (1). Cabai Rawit Kecil atau biasanya disebut cabai jemprit dengan buahnya yang kecil-kecil dan pendek sehingga tidak heran kalau rasanya sangat pedas dibandingkan dengan jenis cabai lainnya. (2). Cabai putih atau cabai domba, memiliki buah yang lebih besar daripada cabai jemprit atau cabai celepik, dengan cita rasa buahnya yang kurang enak dan kadang kala tidak terlalu pedas. (3). Cabai Celepik, memiliki buah yang lebih besar daripada cabai jemprit dan lebih kecil dari cabai domba/cabai putih. Rasanya tidak sepedas cabai jemprit. Sewaktu muda cabai celepik memiliki warna kulit buah berwarna hijau muda atau terkadang berwarna hijau tua, dan setelah matang berwarna merah padam.
Cara Budidaya dan Menanam Cabai Rawit Agar Hasil Panen Selangit
Pada dasarnya budidaya tanaman cabai rawit dapat dilakukan oleh petani di aneka macam jenis lahan, baik itu dilakukan penanaman di kawasan ladang, persawahan, perkebunan, tanah lapang, maupun di halaman rumah. Memperoleh hasil panen cabai rawit yang melimpah ruah sangat diinginkan oleh para petani yang hendak membudidaya tanaman ini. Untuk memperoleh hasil panen selangit, mari ikuti kiat-kiat bercocok tanam cabai rawit yang baik dan benar.
1. Pengelolaan Tanah/Lahan
Pengelolaan tanah/lahan dapat dilakukan dengan membajak sawah menggunakan mesin traktor atau dapat dilakukan dengan mencangkul sedalam 25-30 cm sampai tanah menjadi gembur. Selanjutnya biarkan tanah tersebut sampai 7-14 hari semoga memperoleh sinar matahari yang cukup. Setelah itu, buatlah bedengan dengan lebar bedeng 100-120cm, tinggi bedeng 20-30cm, dan jarak antar bedeng yangs atu dengan lainnya yakni 30-45cm. Arah bedeng memanjang dari arah utara ke selatan semoga memperoleh pancaran cahaya matahari yang cukup. Selanjutnya siapakan pupuk sangkar atau pupuk kompos dengan syarat tidak berbau, kering, tidak panas. Baca juga: Persiapan Awal Tanam Cabe: Pengolahan Tanah.
Jarak tanam antara satu tanam cabai rawit yaitu 50x90cm atau 50x70cm atau 50x100cm dan diadaptasi dengan kebutuhan. Langkah selanjutnya yaitu membuat jarak tanaman dengan cara: (1). Pasang tali kenca/pelurus sejajar dengan panjang bedeng (kira-kira 10cm dari tepi bedeng), (2). Ukur jarak tanam yang diinginkan sesuai panjang tali kencana tersebut. (3) membuat lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan. Kemudian berilah masing-masing lubang tanam dengan pupuk sangkar terlebih dahulu. Ingat pinjaman pupuk TSP, Urea, KCL, dll dikala usia tanaman sudah berumur 1 bulan lebih. Sebaiknya di awal tanam gunakan saja pupuk sangkar alasannya yakni memiliki komposisi unsur hara yang ramah dengan akar tanaman muda. Jika menggunakan pupuk menyerupai Urea, TSP, dll sangat dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan akar, meskipun ada beberapa petani yang mencampurkan antara pupuk sangkar dengan pupuk TSP, Urea, maupun KCL.
2. Penyemaian Bibit Cabai Rawit Yang Benar
Penyemaikan bibit dilakukan untuk memperoleh tumbuhan muda (anakan) yang akan didewasakan sehingga menghasilkan buah yang diinginkan. Adapun tahapan penyemaian bibit yang benar yakni; (1). Membuat bedeng atau tempat persemaian bibit dengan ukuran bedeng yakni lebar bedeng 1-1,2 meter, panjang bedeng 3-5 meter, dan tinggi bedeng 15-20 centimeter. Langkah (2) penyemaian bibit, yakni dengan melibatkan kebutuhan benih 300-500 butir untuk tiap hektarnya. Sebelum benih ditabur, sebaiknya tempat persemaian/bedeng disiram secara merata, setelah itu barulah benih disemai dengan beberapa alternatif cara yakni; Semai bebas atau ditabur merata, semai dalam baris, atau semai kelompok.
Anda juga bisa mencoba menyemai bibit cabe rawit dengan menggunakan teknik semai cabe sistem gelintir dan teknik semai cabe steril pro yang akan dihasilkan tanaman serentak.
Link 1: Cara Semai Cabe Steril Pro, Dihasilkan Tanaman Serentak
Link 2: Cara Penyemaian Bibit Cabe Sistem Gelintir (Soil Block)
Dari kedua teknik (cara) semai cabe di atas, anda dapat mencobanya, semoga berhasil. Selamat mempraktekan.
3. Penanaman Cabai Rawit di Atas Lahan Yang Disediakan
Bibit cabai rawit yang telah berusia satu bulan sebaiknya segera ditanam. Dan penanaman sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari semoga batang tanaman dan daunnya tidak layu. Beberapa ciri/kriteria bibit yang siap ditanam yaitu telah berumur satu bulan, tidak terserang hama dan penyakit, pertumbuhan tanaman seragam.
Sementara itu untuk tata cara penanaman cabai rawit yakni pertama menyiram bibit yang akan ditanam dengan air bersih, pilihlah bibit yang akan ditanam, kalau penyemaian bibit sebelumnya menggunakan polybag sebaiknya lepas dulu bibit dari polybag plastik tersebut, padatkan tanah disekeliling tanaman bibit yang telah dimasukan ke dalam lubang tanam semoga tidak mudah rebah/jatuh.
4. Cara Pemeliharaan Tanaman Cabai Rawit
Pemeliharaan tanaman cabai rawit melibatkan beberapa metode seperti;
(1) Penyiraman, dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari atau diadaptasi dengan keadaan tanah serta curah hujan yang ada di wilayah setempat.
(2). Penyiangan, dilakukan semata-mata untuk menghambat pertumbuhan tanaman liar pengganggu (gulma). Rumput/gulma yang ada di sekitar tanaman sebaiknya dicabut dengan disiang menggunakan alat koret/sabit. Tujuan pencabutan gulma/rumput liar semoga tidak mengambil nutrisi yang ada pada tanah sekitar akar tanaman cabai rawit tersebut. Referensi, baca: Cara Pendangiran dan Penyiangan pada Tanaman Cabe Sesuai Prosedur yang Baik dan Benar.
(3). Pemupukan, yaitu dengan melibatkan sejumlah pupuk kimia untuk satu hektarnya menyerupai pupuk Urea = 200kg, TSP= 200kg, dan pupuk KCL sebanyak 150 kg. (Silakan baca juga: Jadwal Pemupukan Pada Tanaman Cabe Yang Baik dan Benar).
(4) Hama dan penyakit pada tanaman, menyerupai diketahui banyak sekali jenis hama yang menyerang tanaman cabai rawit menyerupai hawa wereng yang merusak struktur daun muda, tungau merah, kutu daun berwarna kuning yang sering menjadikan daun menjadi keriting dan terlihat pucat, serta jenis kutu gurem atau biasa disebut thrips. Tanda-tanda tanaman terserang penyakit yakni tanaman berwarna menyerupai perak, daun menjadi layu, daun mengering bahkan keriting dan adanya bercak-bercak kuning-kecokelatan, tanaman tampak pucat, dan kadang kala akar tanaman juga diserang oleh jenis jamur benalu sehingga dapat membuat tumbuhan rawit menjadi mati seketika. Biasanya hama pengganggu tanaman dapat dibasmi dengan menggunakan beberapa obat dari pestisida cair, atau dengan menggunakan predator biologi yang lebih aman.
5. Kegiatan Panen, Pasca Panen, dan Pemasaran Cabai Rawit
Kegiatan panen cabai rawit yakni hal yang sering dinanti-nanti oleh para petani setelah mengalami jerih payah selama proses penenaman, perawatan, serta pengendalian hama pengganggu tanaman. Untuk produksi panen cabai rawit hampir sama dengan cabai besar, hanya saja usia cabai rawit lebih lama yaitu 2-3 tahun, sehingga produksi cabai rawit lebih tinggi daripada cabai besar. Cabai rawit dapat dipanen dikala buahnya sedang berwarna hijau tua, merah atau sudah matang. Jika cabai rawit dipanen hijau, cabe kelihatan bernas dan berisi. Cabe rawit dipanen dengan cara dipetik, baca: Cara Memetik Buah Cabe Sesuai Anjuran yang Benar.
Pemanenan cabai rawit dapat dilakukan 4-7 hari sekali dalam satu minggunya. Hal ini dilakukan untuk memberi keseragaman cabai rawit semoga matang secara bersama, sehingga pemanenan dilakukan secara serentak dan pemanenan juga tergantung pada situasi harga di pasaran. Di pasaran harga cabai rawit hijau dan cabai rawit merah biasanya sangat tinggi.
Beberapa waktu lalu, dikala harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Naik secara Nasional (sekitar bulan November 2014 sampai Januari 2015), harga cabai rawit melambung tinggi sampai berada pada kisaran harga Rp. 60.000 sampai Rp.75.000,00-, untuk setiap kilogramnya. Tentu ini yakni harga yang sangat fantastik sehingga cara budidaya cabe rawit dengan hasil panen selangit dapat terwujud. Semoga penjelasan perihal cara budidaya cabe rawit dengan hasil panen selangit bermanfaat untuk teman-teman petani semuanya. Salam super dan andal untuk petani Indonesia. Selamat mempraktekkan cara ini, semoga berhasil. Baca juga artikel menarik berikut ini: 5 Teknik Perawatan Cabai, Panen 60 Kali Lipat.
Setiap orang pasti sudah mengenal bahkan cabe merupakan bumbu masak alamiah yang bisa menggugah selera dan memberi rasa pedas pada menu masakan. Bagi Anda yang sering memakan sambal, rasanya tidak enak kalau makan tanpa adanya rasa pedas pada sayur atau menu masakan lainnya. Sebab, hampir seluruh menu masakan yang disajikan di aneka macam restaurant, warung makan, hotel dan tempat wisata masakan semuanya jenis sayurnya tidak terlepas dari penambahan buah cabai rawit di dalamnya. Cabe rawit sebagian orang gemar mengonsumsinya alasannya yakni selain rasanya yang pedas juga dapat menambah selera makan.
Karakteristik dan Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Rawit
Tanaman cabai rawit memiliki karakteristik memiliki daun yang hijau bau tanah dan kadang kala berwarna hijau muda, memiliki akar serabut, merupakan tumbuhan monokotil, perawakan badan kadang kala memiliki ketinggian 80-90 cm, daun berurat menjari, bunga kelipatan 3, bunganya biasanya menggantung diantara ketiak batang maupun ketiak daun, batangnya tidak beruas-ruas, buah cabai rawit yang masih muda berwarna hijau muda dan buah yang sudah matang berwarna merah.
![]() |
Tanaman CABE RAWIT JENGKI Berbuah Lebat, Photo Original by: Wahid Priyono (Guruilmuan Indonesia). |
Tanaman cabai rawit membutuhkan iklim sedang serta ketersedian air cukup di sepanjang musimnya. Kondisi cuaca dan iklim yang mendukung untuk bercocok tanam cabai rawit yakni kisaran suhu 17-26 derajat celcius, dengan kelembaban 50-60 %.
Tanaman Cabai rawit sangat toleran terhadap aneka macam jenis tanah. Umumnya para petani menanam cabai rawit pada lahan yang memiliki kadar humus tinggi, tanahnya gembur dan tidak gersang, memiliki banyak unsur hara penting, serta sangat cocok ditanam pada tanah jenis aluvial ataupun latosol. Tingkat keasamaan (pH) tanah yang cocok untuk tanaman cabe rawit berkisar 5,3-5,5. Tanah yang biasanya digunakan petani untuk menanam cabe rawit yakni tanah gembur berhumus, tanah andosol, tanah latosol, tanah aluvial.
Varietas atau Jenis Tanaman Cabai Rawit Yang Sering Ditanam Oleh Petani
Setidaknya ada beberapa varietas/jenis tanaman cabai rawit yang sering ditanam oleh para petani diantaranya; (1). Cabai Rawit Kecil atau biasanya disebut cabai jemprit dengan buahnya yang kecil-kecil dan pendek sehingga tidak heran kalau rasanya sangat pedas dibandingkan dengan jenis cabai lainnya. (2). Cabai putih atau cabai domba, memiliki buah yang lebih besar daripada cabai jemprit atau cabai celepik, dengan cita rasa buahnya yang kurang enak dan kadang kala tidak terlalu pedas. (3). Cabai Celepik, memiliki buah yang lebih besar daripada cabai jemprit dan lebih kecil dari cabai domba/cabai putih. Rasanya tidak sepedas cabai jemprit. Sewaktu muda cabai celepik memiliki warna kulit buah berwarna hijau muda atau terkadang berwarna hijau tua, dan setelah matang berwarna merah padam.
Cara Budidaya dan Menanam Cabai Rawit Agar Hasil Panen Selangit
Pada dasarnya budidaya tanaman cabai rawit dapat dilakukan oleh petani di aneka macam jenis lahan, baik itu dilakukan penanaman di kawasan ladang, persawahan, perkebunan, tanah lapang, maupun di halaman rumah. Memperoleh hasil panen cabai rawit yang melimpah ruah sangat diinginkan oleh para petani yang hendak membudidaya tanaman ini. Untuk memperoleh hasil panen selangit, mari ikuti kiat-kiat bercocok tanam cabai rawit yang baik dan benar.
1. Pengelolaan Tanah/Lahan
Pengelolaan tanah/lahan dapat dilakukan dengan membajak sawah menggunakan mesin traktor atau dapat dilakukan dengan mencangkul sedalam 25-30 cm sampai tanah menjadi gembur. Selanjutnya biarkan tanah tersebut sampai 7-14 hari semoga memperoleh sinar matahari yang cukup. Setelah itu, buatlah bedengan dengan lebar bedeng 100-120cm, tinggi bedeng 20-30cm, dan jarak antar bedeng yangs atu dengan lainnya yakni 30-45cm. Arah bedeng memanjang dari arah utara ke selatan semoga memperoleh pancaran cahaya matahari yang cukup. Selanjutnya siapakan pupuk sangkar atau pupuk kompos dengan syarat tidak berbau, kering, tidak panas. Baca juga: Persiapan Awal Tanam Cabe: Pengolahan Tanah.
Jarak tanam antara satu tanam cabai rawit yaitu 50x90cm atau 50x70cm atau 50x100cm dan diadaptasi dengan kebutuhan. Langkah selanjutnya yaitu membuat jarak tanaman dengan cara: (1). Pasang tali kenca/pelurus sejajar dengan panjang bedeng (kira-kira 10cm dari tepi bedeng), (2). Ukur jarak tanam yang diinginkan sesuai panjang tali kencana tersebut. (3) membuat lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan. Kemudian berilah masing-masing lubang tanam dengan pupuk sangkar terlebih dahulu. Ingat pinjaman pupuk TSP, Urea, KCL, dll dikala usia tanaman sudah berumur 1 bulan lebih. Sebaiknya di awal tanam gunakan saja pupuk sangkar alasannya yakni memiliki komposisi unsur hara yang ramah dengan akar tanaman muda. Jika menggunakan pupuk menyerupai Urea, TSP, dll sangat dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan akar, meskipun ada beberapa petani yang mencampurkan antara pupuk sangkar dengan pupuk TSP, Urea, maupun KCL.
![]() |
Tanaman CABE RAWIT JENGKI Sedang Berbunga Lebat, Photo Original by: Wahid Priyono (Guruilmuan Indonesia). |
2. Penyemaian Bibit Cabai Rawit Yang Benar
Penyemaikan bibit dilakukan untuk memperoleh tumbuhan muda (anakan) yang akan didewasakan sehingga menghasilkan buah yang diinginkan. Adapun tahapan penyemaian bibit yang benar yakni; (1). Membuat bedeng atau tempat persemaian bibit dengan ukuran bedeng yakni lebar bedeng 1-1,2 meter, panjang bedeng 3-5 meter, dan tinggi bedeng 15-20 centimeter. Langkah (2) penyemaian bibit, yakni dengan melibatkan kebutuhan benih 300-500 butir untuk tiap hektarnya. Sebelum benih ditabur, sebaiknya tempat persemaian/bedeng disiram secara merata, setelah itu barulah benih disemai dengan beberapa alternatif cara yakni; Semai bebas atau ditabur merata, semai dalam baris, atau semai kelompok.
Anda juga bisa mencoba menyemai bibit cabe rawit dengan menggunakan teknik semai cabe sistem gelintir dan teknik semai cabe steril pro yang akan dihasilkan tanaman serentak.
Link 1: Cara Semai Cabe Steril Pro, Dihasilkan Tanaman Serentak
Link 2: Cara Penyemaian Bibit Cabe Sistem Gelintir (Soil Block)
Dari kedua teknik (cara) semai cabe di atas, anda dapat mencobanya, semoga berhasil. Selamat mempraktekan.
3. Penanaman Cabai Rawit di Atas Lahan Yang Disediakan
Bibit cabai rawit yang telah berusia satu bulan sebaiknya segera ditanam. Dan penanaman sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari semoga batang tanaman dan daunnya tidak layu. Beberapa ciri/kriteria bibit yang siap ditanam yaitu telah berumur satu bulan, tidak terserang hama dan penyakit, pertumbuhan tanaman seragam.
Sementara itu untuk tata cara penanaman cabai rawit yakni pertama menyiram bibit yang akan ditanam dengan air bersih, pilihlah bibit yang akan ditanam, kalau penyemaian bibit sebelumnya menggunakan polybag sebaiknya lepas dulu bibit dari polybag plastik tersebut, padatkan tanah disekeliling tanaman bibit yang telah dimasukan ke dalam lubang tanam semoga tidak mudah rebah/jatuh.
4. Cara Pemeliharaan Tanaman Cabai Rawit
Pemeliharaan tanaman cabai rawit melibatkan beberapa metode seperti;
(1) Penyiraman, dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari atau diadaptasi dengan keadaan tanah serta curah hujan yang ada di wilayah setempat.
(2). Penyiangan, dilakukan semata-mata untuk menghambat pertumbuhan tanaman liar pengganggu (gulma). Rumput/gulma yang ada di sekitar tanaman sebaiknya dicabut dengan disiang menggunakan alat koret/sabit. Tujuan pencabutan gulma/rumput liar semoga tidak mengambil nutrisi yang ada pada tanah sekitar akar tanaman cabai rawit tersebut. Referensi, baca: Cara Pendangiran dan Penyiangan pada Tanaman Cabe Sesuai Prosedur yang Baik dan Benar.
(3). Pemupukan, yaitu dengan melibatkan sejumlah pupuk kimia untuk satu hektarnya menyerupai pupuk Urea = 200kg, TSP= 200kg, dan pupuk KCL sebanyak 150 kg. (Silakan baca juga: Jadwal Pemupukan Pada Tanaman Cabe Yang Baik dan Benar).
(4) Hama dan penyakit pada tanaman, menyerupai diketahui banyak sekali jenis hama yang menyerang tanaman cabai rawit menyerupai hawa wereng yang merusak struktur daun muda, tungau merah, kutu daun berwarna kuning yang sering menjadikan daun menjadi keriting dan terlihat pucat, serta jenis kutu gurem atau biasa disebut thrips. Tanda-tanda tanaman terserang penyakit yakni tanaman berwarna menyerupai perak, daun menjadi layu, daun mengering bahkan keriting dan adanya bercak-bercak kuning-kecokelatan, tanaman tampak pucat, dan kadang kala akar tanaman juga diserang oleh jenis jamur benalu sehingga dapat membuat tumbuhan rawit menjadi mati seketika. Biasanya hama pengganggu tanaman dapat dibasmi dengan menggunakan beberapa obat dari pestisida cair, atau dengan menggunakan predator biologi yang lebih aman.
5. Kegiatan Panen, Pasca Panen, dan Pemasaran Cabai Rawit
Kegiatan panen cabai rawit yakni hal yang sering dinanti-nanti oleh para petani setelah mengalami jerih payah selama proses penenaman, perawatan, serta pengendalian hama pengganggu tanaman. Untuk produksi panen cabai rawit hampir sama dengan cabai besar, hanya saja usia cabai rawit lebih lama yaitu 2-3 tahun, sehingga produksi cabai rawit lebih tinggi daripada cabai besar. Cabai rawit dapat dipanen dikala buahnya sedang berwarna hijau tua, merah atau sudah matang. Jika cabai rawit dipanen hijau, cabe kelihatan bernas dan berisi. Cabe rawit dipanen dengan cara dipetik, baca: Cara Memetik Buah Cabe Sesuai Anjuran yang Benar.
Pemanenan cabai rawit dapat dilakukan 4-7 hari sekali dalam satu minggunya. Hal ini dilakukan untuk memberi keseragaman cabai rawit semoga matang secara bersama, sehingga pemanenan dilakukan secara serentak dan pemanenan juga tergantung pada situasi harga di pasaran. Di pasaran harga cabai rawit hijau dan cabai rawit merah biasanya sangat tinggi.
Beberapa waktu lalu, dikala harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Naik secara Nasional (sekitar bulan November 2014 sampai Januari 2015), harga cabai rawit melambung tinggi sampai berada pada kisaran harga Rp. 60.000 sampai Rp.75.000,00-, untuk setiap kilogramnya. Tentu ini yakni harga yang sangat fantastik sehingga cara budidaya cabe rawit dengan hasil panen selangit dapat terwujud. Semoga penjelasan perihal cara budidaya cabe rawit dengan hasil panen selangit bermanfaat untuk teman-teman petani semuanya. Salam super dan andal untuk petani Indonesia. Selamat mempraktekkan cara ini, semoga berhasil. Baca juga artikel menarik berikut ini: 5 Teknik Perawatan Cabai, Panen 60 Kali Lipat.