Widget HTML Atas

Budidaya DAUN KATUK Secara Organik Agar Cepat Panen dan Menguntungkan Bagi Petani

Budidaya Tanaman Katuk di Kebun
Budidaya Tanaman Katuk di Kebun, Foto Original Oleh: guruilmuan.blogspot.com

Siapa yang tidak mengenal tanaman katuk? Daun katuk dengan nama ilmiah Sauropus androgunus L. Merr merupakan tanaman holtikultur yang telah banyak dibudidaya oleh masyarakat petani maupun pekebun, baik di lahan terbuka di kebun-kebun warga, ladang, sawah, tegalan, atau di tempat lereng-lereng pegunungan. Budidaya tanaman daun katuk sangat mudah dan terbilang praktis apabila diterapkan secara organik. Sebab, ketika ini banyak petani yang senang membudidaya banyak sekali jenis tanaman dengan cara organik, termasuk bagaimana mereka berupaya untuk menanam daun katuk secara organik semoga cepat dipanen dan menguntungkan ketika dijual di pasaran nantinya.

Iklim Indonesia yang tropis membuat tanaman katuk ini dapat tumbuh baik di banyak sekali tempat di Indonesia. Apabila Anda ingin melihat wilayah-wilayah di Indonesia yang berprospek menghasilkan tanaman katuk dalam jumlah melimpah dapat ditemukan di tempat Gisting dan Kalianda (Provinsi Lampung - Indonesia). Di tempat tersebut Anda akan dapat melihat bagaimana para petani holtikultura banyak membudidaya dan merawat tanaman katuk secara telaten, dengan tujuan supaya hasil panen baik dan laku dijual di pasar.

Katuk dibudidaya oleh petani secara vegetatif dengan cara mengambil adegan tunas atau adegan batang kemudian di stek batang atau eksklusif ditanam pada media tanah yang dicampur dengan pupuk kompos ataupun pupuk kandang. Dengan kerajinan dan ketekunan dalam membudidaya tanaman ini, maka dijamin hasil yang diperoleh pun akan optimal.

Manfaat Tanaman Katuk

Organ tanaman katuk baik itu organ akar, batang, daun, maupun buah dan bunganya dapat dimanfaatkan untuk banyak sekali kepentingan umat manusia. Daun katuk selain dapat digunakan sebagai lalap juga dapat dijadikan materi utama dalam pembuatan sup atau sayur bening (bahasa jawa), serta daun katuk tersebut dapat dimanfaatkan untuk memberi warna alami (warna hijau) pada banyak sekali aneka kue/roti sehingga lebih menyehatkan dibandingkan bila menggunakan pewarna makanan sintetik (buatan). Bagian organ akar dan batang katuk dapat dikeringkan dan dibuat menjadi ramuan herbal alami kemudian diseduh dengan air hangat/panas dapat membantu dalam meringankan rasa lelah setelah seharian bekerja dan beraktivitas padat. Bagian organ bunga dan buahnya dapat dibuat sayur sup bersamaan dengan adegan daunnya, atau dapat pula dijadikan sebagai tanaman herbal untuk menyembuhkan banyak sekali jenis dan macam penyakit yang menyerang badan menyerupai eksim (penyakit kulit), gatal dan luka lecet,memar dan luka bakar, serta bisa menyembuhkan penyakit maag, diabetes, asam urat, maupun hipertensi, dan masih banyak lagi fungsi dari tanaman katuk.

Syarat Tumbuh Tanaman Katuk

Tanaman katuk dapat tumbuh secara normal pada tempat di dataran tinggi maupun di dataran rendah mulai dari ketinggian lahan 100 - 1.400 meter di bawah permukaan air laut (mdpl). Suhu optimum yang baik untuk tumbuh-kembang katuk pada kisaran 18 - 36 derajat celcius. Kandungan oksigen dan sistem aerasi yang baik sangat bagus bagi media tumbuh tanaman katuk. Curah hujan dan air yang cukup sangat baik untuk membantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman katuk, yakni curah hujan 800 mm/tahun, dengan kelembaban udara 80%. Karena tumbuhan katuk tidak manja, maka dapat ditanam pada hampir semua jenis tanah, baik itu ditanam pada tanah aluvial, lempung berpasir, tanah humus bekas pembakaran sampah, atau pada jenis tanah grumosol, andosol, dan tanah merah. Namun, umumnya petani menanamnya ditanah gembur dengan kaya unsur hara organik supaya katuk cepat dipanen dan lebih menguntungkan petani. Derajat keasaman (pH) tanah yang cocok untuk tumbuh dan berkembangnya organ tanaman yakni kisaran 5,5 - 6,7. Pencahayaan matahari penuh sepanjang hari ialah hal mutlak untuk memperoleh hasil panen katuk yang maksimal.

Ciri-Ciri Umum (Karakteristik) Tanaman Katuk

Tanaman katuk memiliki karakteristik yakni daunnya berbentuk bundar telur, dalam satu tangkai daun terdiri dari sejejeran daun yang berwarna hijau, duduk daunnya tumbuh selang-seling dengan daun lainnya, bila tanaman katuk cukup umur sudah berbuah maka buah dan bunganya akan berjejer rapih di bawah daun atau ketiak daunnya. Bagian organ daun inilah yang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan kuliner. Batang katuk termasuk jenis batang tanaman berkambium, memiliki sistem perakaran tunggang sehingga bijinya berkeping dua (dikotil), buah bila dicicipi adakala terasa masam, kulit buahnya berwarna merah dan kuning cerah dengan daging buahnya banyak mengandung air hampir 45% dari bobot tiap satu butir buah.

Cara Budidaya Tanaman Katuk

Budidaya dan menanam tanaman katuk pada dasarnya sama dengan cara menanam tanaman holtikultur buah maupun sayur. Hanya saja apabila tanaman katuk dibudidaya secara organik, maka lebih banyak menggunakan pupuk-pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan ternak maupun hewan unggas. Cara budidaya katuk terbilang sangat mudah dan dapat dilakukan oleh semua kalangan profesi baik petani, pekebun, guru, ilmuan, pekerja kantor, pecinta tanaman di area pedesaan maupun di taraf perkotaan. Semua kalangan tersebut dapat membudidaya katuk baik dilakukan di lahan terbuka maupun ditanam pada media popybag, wadah bejana bekas, di dalam karung, pot, dan lainnya. Budidaya katuk melibatkan tahapan pemilihan bibit dan penanaman bibit katuk vegetatif, penanaman katuk organik di lahan terbuka, tahap pemeliharaan katuk, hingga proses kegiatan panen dan pemasaran.

1. Pemilihan Bibit dan Penanaman Bibit Katuk secara Vegetatif

Tahap awal dalam pembudidayaan katuk yakni petani harus memilih dan menentukan mana bibit tanaman katuk terbaik yang hendak ditanam. Bibit katuk dapat diperoleh dari kebun katuk sendiri, yakni dengan cara memotong beberapa ruas batang katuk kemudian dijadikan bibit vegetatif dan eksklusif ditanam di media polybag sebelum ditanam pada lahan terbuka, atau dengan cara mengambil bibit tunas muda anakan dari tanaman katuk induk lalu dibesarkan sementara di wadah pot polybag dan kemudian dipindahkan ke lahan terbuka apabila tanaman sudah dirasa cocok untuk dipindahkan. Bibit juga dapat dibeli secara eksklusif kepada petani katuk yang sudah terbukti bisa menghasilkan produktivitas panen katuk dalam skala besar dan sukses. Bibit katuk sebaiknya diambil dari batang tanaman induk yang sudah berumur setidaknya 6 - 12 bulan, bibit tidak cacat pada organnya, bibit terbebas dari hama dan penyakit tanaman, serta bibit nampak segar dan apabila telah dibeli dari petani lain, maka pastikan akarnya tetap berada di dalam tanah dan kokoh.

Cara penanaman bibit katuk sebelum dipindahkan ke lahan terbuka (kebun, ladang, pekarangan rumah, dan lain sebagainya) yakni pertama kali yakni membuat media tanam yang memiliki komposisi tanah liat yang dicampur dengan pupuk kandang/kompos (perbandingan 1:1). Kemudian campuran kedua media tanam tersebut dimasukan ke dalam beberapa pot polybag (sesuai kebutuhan tanam) untuk beberapa batang/tunas bibit katuk. Setelah itu, tancapkan 1 -2  batang katuk ke dalam media tanam yang sudah disiapkan di dalam polybag besar. Kemudian terakhir siramlah secara rutin masing-masing bibit pada waktu pagi hari dan sore sehingga benar-benar tanah dalam kondisi lembab dan memiliki ketercukupan air secara memadai.

2. Penanaman Katuk Organik di Lahan Terbuka

Tanaman katuk yang sudah ditanam pada pot polybag, selanjutnya yakni ditanam di lahan terbuka menyerupai tempat perkebunan holtikultura, kebun, ladang, dan lahan terbuka lainnya. Pengolahan lahan diawali dengan cara membuat beberapa cangkulan tanah berbentuk persegi dengan ukuran panjang x lebar x tinggi lubang tanam berturut-turut yakni 30 x 30 x 30 cm. Pada adegan dasar lubang tanam diberi pupuk sangkar dari hewan ternak ayam atau sapi yang sudah dikeringkan (1/3 dari tinggi lubang atau ketinggiannya 10 cm). Kemudian masukkan tanaman bibit vegetatif katuk yang telah tumbuh dalam polybag ke dalam lubang tanam yang disediakan, lalu tutup lubang tanam tersebut menggunakan tanah galian, dan selanjutnya yaitu tanaman disiram rutin hingga tanaman berumur 2 bulan. Setelah usia tanaman di atas 2 bulan lebih, sebaiknya frekuensi penyiraman dikurangi, sehingga tinggal melaksanakan perawatan lainnya. Karena, tumbuhan katuk ini tergolong tidak manja dan bisa tumbuh secara baik diberbagai jenis lingkungan dengan catatan terdapat kandungan unsur hara pada lahan sangat tercukupi.

3. Tahap Pemeliharaan Katuk

Pemeliharaan tanaman yakni bertujuan semoga tanaman dapat diberdayakan potensi hidupnya menjadi lebih baik. Pada kasus penanaman katuk, perawatan meliputi kegiatan penyulaman, pembersihan gulma, penggemburan lahan (pendangiran), penyiraman dan pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman. Penjelasan dapat dilihat pada adegan di bawah ini:

  • Penyulaman Katuk: Penyulaman katuk menjadi sangatlah penting dilakukan apabila nampak ada tanaman yang rusak, mati atau layu mendadak. Segera gantilah tanaman bibit tumbuh yang rusak dan mati dengan tanaman bibit katuk gres bila ditemukan tanaman yang mengalami permasalahan tersebut. Sebaiknya penyulaman dilakukan 3 - 4 ahad setelah tanam awal;
  • Pembersihan Gulma (Penyiangan): Tujuannya yakni untuk memastikan bahwa tanaman terbebas dari rumput liar yang akan mengganggu pertumbuhan serta perkembangan tanaman. Pembersihan gulma dilakukan sewaktu-waktu saja (tentatif) bila terlihat ada acara pertumbuhan gulma secara berlebih di area sekitar tanaman katuk;
  • Penggemburan Lahan (Pendangiran): Hal ini dilakukan supaya sistem aerasi dan pengedaran Oksigen di dalam tanah ke adegan organ akar tanaman semakin bagus dan lancar. Pendangiran dilakukan dengan cara mencangkul kecil-kecil di sekitar akar tanaman katuk dengan hati-hati supaya tanahnya menjadi gembur serta memudahkan dalam proses absorpsi air dan oksigen ke adegan akar tanaman, sehingga tanaman katuk akan semakin subur dan terlihat sehat bugar dan bebas dari kekurangan nutrisi;
  • Penyiraman dan Pemupukkan: Ini penting dilakukan untuk memperoleh hasil panen katuk melimpah ruah serta bisa menghasilkan organ tanaman yang sehat serta dapat memperoleh adegan organ daun yang nampak segar, daunnya lebar dan tebal. Penyiraman tanaman katuk menggunakan air bersih. Sementara itu, untuk pemupukkan tanaman dilakukan menggunakan dua jenis pupuk padat dan pupuk cair. Untuk pupuk padat diberikan dua kali dalam sebulan yakni menggunakan pupuk kandang/kompos. Sangat direkomendasikan untuk menggunakan pupuk kotoran ayam/itik/mentok alasannya diketahui lebih banyak mengandung unsur mikro nutrien yakni unsur hara Nitrogen (N) dan Kalium (K) yang terbukti bisa membuat daun menjadi lebih hijau, tebal serta daunnya menjadi semakin lebat (banyak). Selain penggunaan pupuk padat, penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) biasanya terbuat dari fermentasi air kencing maupun kotoran ternak dan dapat diberikan dengan cara menyemprotkan pada akar-akar tanaman katuk untuk menambah kualitas dari hasil panen nantinya.
  • Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman: Jenis hama yang sering menyerang tanaman katuk diantaranya yaitu wereng hitam, penyakit jamur katuk berwarna putih menempel pada adegan organ batang dan cabang daun. Hama lain yakni ulat hijau yang sering membuat daun muda katuk menjadi menggulung dan lama-kelamaan akan layu dan berujung mati. Apabila pada tanaman katuk terdapat ulat hijau segera ambil tindakan dengan cara dimabil manual lalu dimatikan.

4. Kegiatan Panen dan Pemasaran Hasil Panen Katuk

Tanaman Katuk Organik
Tanaman Katuk Organik, Foto Original Dibidik Oleh: guruilmuan.blogspot.com


Tanaman daun katuk sudah dapat mulai dipanen ketika usianya sudah mencapai 8 - 15 bulan semenjak tanam awal. Proses kecepatan panen dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya banyaknya cahaya matahari yang menyinari organ tanaman, faktor temperatur, suhu, pH tanah, dan kualitas bibit. Kegiatan pemanenan katuk dilakukan dengan cara mengambil beberapa adegan organ tanaman sesuai kebutuhan. Selain itu, pemanenan katuk juga dapat dilakukan beberapa kali panen secara berkala. Biasanya banyak sekali petani yang lebih banyak memanen adegan daun mudanya untuk kepentingan konsumsi sehari-hari, yakni dijadikan campuran sayur sup, sayur santan katuk, bergedel katuk, dan bakwan katuk yang sangat lezat. Daun dan beberapa pucuk batang muda yang ada daunnya dipanen dengan cara dipetik kemudian dimasukan ke dalam keranjang atau bakul yang terbuat dari bilah bambu yang telah dianyam. Atau pemanenan juga dapat dilakukan dengan cara dipetik menggunakan pisau lalu dimasukan di dalam keresek plastik.

Sebelum dijual di pasaran, daun dan batang katuk muda diikat-ikat dengan menggunakan tali rafia atau tali dari bambu. Tiap ikat katuk bisa berisi beberapa ruas batang katuk muda yang ada daunnya, kemudian hasil ikatan katuk disiram terlebih dahulu dengan air bersih semoga nampak segar sebelum dan sesudah dijual di pasaran. Harga 1 ikat sayur katuk dijatuhkan harga Rp. 5.000,00,- hingga dengan Rp. 6.750,00,00,- untuk wilayah di pasar tradisonal di kota Bandar Lampung. Dan tentunya harga sayur katuk di tiap-tiap tempat di Indonesia sangat beranekaragam dan berbeda-beda.

Melihat harga yang cukup fantastik di atas, maka tidak ada salahnya Anda mulai mencoba untuk menanam katuk secara organik di halaman rumah, kebun, sawah, ladang, dan lahan-lahan lain yang sangat berprospek menjadi syarat tumbuh tanaman katuk. Semoga apa yang Anda lakukan berhasil dan menghasilkan panen katuk yang memadai.

Demikian isu wacana cara: "Budidaya Katuk Secara Organik Agar Cepat Panen dan Menguntungkan Bagi Petani". Semoga apa yang sudah dijelaskan pada uraian di atas bermanfaat untuk para Anda rekan-rekan petani baik di tempat pedesaan maupun di tempat perkotaan. Mari manfaatkan lahan di tempat tinggal kita untuk ditanami banyak sekali jenis tanaman sayur dan buah, termasuk menanam tanaman katuk merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Mari menanam di kebun dan halaman rumah, salam budidaya pertanian. Jayalah petani Indonesia. Merdeka.